Tampilkan postingan dengan label aksel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label aksel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 September 2012

Ini yang Dilakukan Anak-anak Cerdas di Luar Kelas


KOMPAS.com — Kebanyakan anak-anak yang cerdas hidup dengan otak yang bekerja cerdas dan memikirkan untuk tidak bertindak bodoh. Ini bukan sekadar soal kemampuan intelegensia, melainkan keterampilan.
Penting bagi Anda untuk menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama mereka dan melihat dunia tempat mereka hidup. Mereka berupaya tinggal dalam lingkungan yang tepat dan menghindarkan mereka dari berbagai jenis gangguan.
Berikut adalah lima perilaku penting yang dilakukan oleh anak-anak yang cerdas di luar kelas formal.
1) Mereka tidak bersekolah sebagai wisatawan. Anak-anak pintar mengambil bagian dalam kegiatan sekolah di luar kelas. Mereka menghadiri acara kampus dan mengikuti klub kampus. 
Sebagian besar dari kesuksesan di perguruan tinggi adalah menciptakan jaringan baru dari teman-teman, termasuk dari aktivitas acara dan klub kampus. Ini tidak berarti bahwa Anda memutus hubungan dengan teman-teman lama Anda, tetapi ini berarti memperluas jaringan Anda. Cobalah beberapa aktivitas, mulai dari pertunjukkan teater, konser, ceramah, dan acara-acara lain yang menjadi bagian dari masyarakat.

2) Anak-anak pintar tidak hanya duduk di kelas. Mereka berinteraksi di kelas, bahkan pada saat kuliah. Jika tidak dapat berinteraksi dengan guru, mereka berinteraksi dengan rekan-rekan atau bahkan dengan diri mereka sendiri, menebak apa yang guru mungkin katakan selanjutnya, mencoba menyimpulkan poin bersama-sama, mencoba membuat asosiasi dengan hal-hal lain yang mereka tahu dan pengalaman lain yang mereka miliki. Kadang-kadang itu adalah perjuangan untuk membayar perhatian di kelas, tetapi perjuangan yang juga sering mendatangkan manfaat. 

3) Ketika mereka belajar, di sebagian besar waktu, mereka hanya belajar. Anak-anak cerdas ini belajar dengan tidak melakukan hal-hal lain. Katakanlah Anda memiliki lima mata pelajaran dan masing-masing membutuhkan 2 jam belajar dalam satu minggu di rumah. Mereka akan melakukannya dengan baik. Itu artinya, hanya 10 jam mereka belajar dalam seminggu dan itu efektif.
Anak-anak lain sering menghabiskan waktu di antara waktu belajar, misalnya, bergosip dengan teman-teman dan menonton televisi. Anak-anak ini hanya memiliki sedikit usaha untuk konsentrasi.

4) Mereka berbicara dengan teman-teman dan keluarga tentang apa yang mereka pelajari di sekolah. Jika Anda tidak ingin menghabiskan beberapa waktu luang Anda berbicara tentang sekolah, Anda melakukan sesuatu yang salah. 
Akan tetapi, banyak dari kita hanya memiliki teman-teman yang tidak suka bicara tentang sekolah. Padahal, di perguruan tinggi, Anda akan menemui kebebasan untuk berbicara tentang mata kuliah dengan klub ataupun dengan profesor setelah jam kuliah usai.

5) Mereka memahami bahwa jurusan atau mata kuliah yang berbeda memerlukan cara belajar yang berbeda pula. Anak cerdas tahu setiap hal tentu saja tidak sama. Di perguruan tinggi, Anda akan perlu untuk menyesuaikan diri dengan dosen yang berbeda yang memiliki cara yang berbeda untuk menjalankan kelas mereka dan cara yang berbeda untuk mengevaluasi prestasi Anda. 
Hal ini juga terjadi dalam kehidupan nyata, yaitu dunia karier nantinya. Anda harus mencoba untuk menentukan bagaimana kelas dijalankan serta bagaimana Anda akan dinilai dan merencanakan Anda belajar sesuai mata kuliah yang Anda ikuti. Ada kelas ketika saya hanya harus membaca buku  di kelas dan kelas saat saya harus selalu membaca sebelum mengikuti suatu kelas. 
Itu juga terjadi saat menghadapi guru atau dosen yang gemar memberikan tes dalam bentuk pilihan ganda atau esai. Mungkin, saat akan menjalani tes dari pengajar yang suka pilihan ganda, rajin membaca saja cukup. Namun, saat berada di kelas yang dinilai dengan esai, jangan berharap melakukannya dengan baik jika tidak rajin berdiskusi.

Rabu, 06 Juni 2012

Kelas Akselerasi Bukan Untuk Para Juara



Apa Kelas akselerasi  ?
 Kelas akselerasi adalah kelas khusus  dimana  program belajar mengajarnya dibuat sedemikian rupa  sehingga bisa membuat anak-anak berbakat bisa mencapai  prestasi maksimal sesuai dengan potensinya. Program belajar mengajar nya berlansung lebih pendek dari kelas umum.  Biasanya dipersingkat 1 tahun. Jadi beban pelajaran yang pada umumnya diselesaikan selama 3 tahun di kelas ini diselesaikan selama 2 tahun.
 Anak berbakat yang dimaksud disini adalah anak-anak dengan intelegensia tinggi, tetapi juga  disertai dengan kreativitas dan motivasi yang tinggi.

Peserta kelas akselerasi
 Peserta kelas akselerasi adalah anak berbakat yang ditunjukkan dengan ciri intelegensia, kreativitas,dan motivasi yang tinggi . ( Mengikuti teori yang dinyatakan oleh Renzulli ).
 Pada umumnya intelegensia diukur berdasar pengukuran baku, yaitu tes IQ. Ada yang menganggap IQ  di atas 125 sudah bisa masuk kelas untuk anak berbakat. (Eko Supriyanto, Suwarno, Risminawati  , 2005:76 ) , ada juga yang menyatakan bahwa keterbakatan anak ditunjukkan dengan IQ 140 mengikuti skala Simon - Binnet ( Reni Akbar Hawadi, R Sihadi Darmo wiharjo, dan Mardi Wiharjo , 2001:4 ).
 Namun sekolah-sekolah ada yang memutuskan IQ 130 sebagai syarat dasar, disertai dengan berbagai prestasi, sementara kalau di atas 140 dipastikan langsung diterima.
 Jadi peserta kelas ini bukanlah semata-mata para juara, tetapi dasarnya adalah intelgensia yang tinggi. Anak yang pandai bisa memiliki IQ cukup tinggi, misal 120, tetapi memiliki daya juang belajar tinggi . Anak-anak seperti ini memang sebaiknya tidak masuk kelas akselerasi, sebab justru akan membuat  dirinya tidak mencapai hasil maksimal.
 Anak-anak dengan IQ  di atas 130 pun perlu dilihat juga bukti dari motivasi dan kreativitasnya. Biasanya prestasi di sekolah atau prestasi kejuaran lainnya.  Anak dengan IQ di atas 130 tetapi tidak menunjukkan prestasi belum tentu bisa masuk juga dalam kelas ini. Sebab jika motivasinya tidak tinggi, dia tidak bisa mengikuti kelas akselerasi. Anak yang demikian termasuk anak underachiever, perlu mendapat pertolongan dulu supaya bisa mengikuti kelas akselerasi.

Program Pendidikan di kelas Akeselarasi
 Kelas akeselerasi memiliki program pendidkan khusus atau kurikulum khusus yang intinya disesuaikan  dengan kebutuhan anak berbakat.  Commy Semiawan mengutip pendapat yang diajukan Kiato ( 1997 : 113)  tentang pendidikan  untuk anak berbakat sebagai berikut :
 1. Individu berbakat memerlukan konsiderasi khusus dalam pendidikannya, karena mereka secara  kualitatas berbeda dari individu lainnya.
 2. Program penddikan berbakat harus berbeda dari program pendidikan untuk anak lainnya, dengan penekanan luar biasa pada perkembangan kreatfi dan proses berpikir tinggi.
 3. Hafalan dalam pembelajaran bagi anak berbakat harus sejauh mungkin dicegah dengan nmemberikan teknik yang berorientasi pada penemuan  dan pendekatan induktif.
 Jadi kurikulum dalam kelas akselerasi ini sangat khusus disesuaikan dengan anak dengan kecerdesan tinggi. Kemandirian , kecepatan, dan kompleksitas sangat dibutuhkan.
 Untuk itu tentu juga diperlukan guru-guru khusus. Guru tersebut tidak harus memilliki IQ setinggi muridnya, akan tetapi dia harus menguasai ilmu pendidikan  yang dalam dan luas, berpengalam, serta diikuti dengan kepribadian yang matang.
 Karena itu orang tua yang hendak memasukkan anak ke kelas akselerasi perlu melihat kurikulum dan guru-guru yang mengajar di kelas tersebut. Apabila ada kelas akselerasi tetapi kurikulumnya asal dipadatkan dan metode pembelajarannya tidak memperhatikan cara belajar anak maka orang tua tidak perlu memasukan anak ke kelas akselerasi.  Kelas seperti itu mungkin tetap bisa meluluskan murid-muridnya lebih cepat dari kelas reguler, akan tetapi kepribadan siswa nya tidak mengalami perkembangan dengan baik.
 Demikian juga kalau guru-guru sebagai pelaksana kurikulum tidak “mahir” menjadi pencetak anak-anak unggul, maka anak-anak tidak akan mendapat pembinaan secara utuh. Dan ini tidak baik bagi perkembangan jiwa secara utuh.

Mengapa perlu Kelas akselerasi
 Kelas akselerasi diperlukan supaya anak berbakat bisa mengembangkan potensinya secara optimal.
 Dengan perkembangan potensi secara optimal, maka  anak-anak bisa disiapkan sebagai bibit-bibit unggul bagi bangsa dan negara. Mereka akan memberi kontribusi besar bagi kemajuan bangs dan negara.
 Akan tetapiAnak berbakat yang tidak mendapat pendidikan sesuai dengan kecerdesannya akan menghadapi berbagai persoalan :
Underachiever
 Anak berbakat tidak mencapai potensinya maksimal. Anak-anak ini memiliki hasil belajar buruk ,bahkan bisa di bawah anak-anak yang kecerdesannya biasa.  Anak-anak ini karena tidak mendapatkan cara pebdudiakn yang sesuai dengan kemampuannya, akan merasa jemu, ttidak tertarik, dan akhirnya malas belajar.
 Akibatnya negara akan kehilangan anak-anak dengan kemampuan luarbiasa.
 Penggangu
 Anak yang berbakat yang tidak mendapat pendidikan yang sesuai akan mengalihkan kemampuannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan mengasyikan lainnya, yaitu mengganggu teman-temannya. Karena kemampuannya membutuhkan saluran dan di kelas tdak ada, maka dia mulai mencari-cari penyaluran.
 Karena itu anak-anak seperti ini dicap sebaga anak nakal. Celaka sekali mereka yang harusnya menjadi penemu-penemu hebat, malah dianggap pengganggu.
 Penyimpangan
 Lebih parah lagi anak-anak seperti ini bisa mengalami gangguan kejiwaan. Kita pernah melihat ilm tentang psikopat. Orang-orang yang kejam tapi dingin, dan biasanya melakukan kejahatannya dengan cara rapi tetapi mengerikan.
 Commy Semiawan menuliskan ( 1997:11 ) , “Fakta menunjukkan beberapa di antara mereka telah menjadi anak nakal, mencari pelarian ke obat terlarang, dan perilaku deviaant yang lain “

Bukan Kelas “bergengsi ” 
 Kelas akeselerasi bukanlah kelas “bergengsi”. Kelas akselerasi hanyalah kelas khusus yang diperuntukkan untuk anak “gifted”.  Berbakat diterjemahkan dari “gifted”, ini menyataan bahwa kecerdesan itu adalah anugerah. Jadi ini istimewa karena ada “gift” dari yang  mahakuasa. Karena itu masyarakat juga tidak perlu menganggap kelas ini sebagai kelas “bergengsi”.

Yang Harus Diwaspadai
 Peserta kelas akselerasi akan lebih cepat waktu belajarnya. Jika anak ikut di SMP dan SMA maka dia akan berkurang 2 tahun waktu pendidikannya. Dengan demikian sewaktu kuliah dia masih berusia 15 taua 16 tahun. Pada waktu ini perkembangan jiwanya masuk dalam masa remaja, masa ABG.
 Dengan jiwa ABG nya anak-anak masih labil dalam hal-hal lain. Padahal ketika dia masuk perguruan tinggi, dan diharapkan sudah menjadi dewasa secara utuh. Dia akan bergaul dengan orang-orang yagn secara jiwa sudah lebih matang.  Karena itu kalau tidak diwaspadai anak-anak bisa mengalami gangguan kepribadian. Orang tua perlu memperhatikan hal ini.
 Selain itu perhatikan juga dengan kesombongan. Sekalpu n secara mendasar kelas akeselerasi adalah kelas khusus, namun cara pandagn masyarakat yang salah, membuat anak-anak merasa sangat istimewa. Ini bisa menumbuhkan kesombongan , dan tentu ini berbahaya bagi perkembangan jiwa si anak.
 Kiranya orang tua Anton dan orang-orang tua lain yang memiliki anak juara dan tidak bisa ikut dalam kelas akselerasi tidak menjadi kecewa dan terus mendorong anak-anaknya menjadi anak hebat

Kelas Akselerasi, Akselerasi Pendidikan atau Pengajaran?

BEBERAPA kali di harian ini didiskusikan tentang kelas akselerasi di sekolah menengah ke bawah. Secara umum dalam kelas akselerasi, siswa yang berbakat intelektual tinggi mendapat perlakuan khusus sehingga dapat menyelesaikan program SD, SLTP, dan SMU lebih cepat dari siswa lain.



Para ahli pendidikan sebagian setuju dan sebagian lain tidak setuju dengan program itu. Lepas dari setuju atau tidak, kini ada sekolah yang mulai mencobanya dan dari percobaan itu nanti perlu dievaluasi apakah positif atau tidak.

Persoalan kelas akselerasi tentu saja bukan hanya soal percepatan lulusan, tetapi apakah ini demi akselerasi pengajaran atau akselerasi pendidikan? Apakah mungkin pendidikan diakselerasikan? Bila hanya soal pengajaran (pengetahuan), apakah ini menjawab persoalan pendidikan nasional yang akhir-akhir ini banyak didiskusikan, yaitu persoalan pendidikan nilai bagi generasi muda kita? Di bawah ini dicoba diungkap keuntungan dan kerugian kelas akselerasi bagi pendidikan dan pengajaran di sekolah.

KEUNTUNGAN kelas akselerasi adalah, siswa yang bakat intelektualnya tinggi dibantu secara khusus sehingga mereka mendapatkan bantuan pengajaran lebih sesuai bakatnya. Mereka akan dapat cepat lulus, diperkirakan setahun lebih awal dibanding siswa biasa. Jadi keuntungannya terletak pada akselerasi pengajaran.

Dengan program percepatan ini diharapkan siswa berbakat tidak bosan di kelas yang sama dengan siswa lain, sehingga tidak mengganggu, mengacau kelas, dan dia dapat terus maju dengan cepat.

Selain keuntungan, ada beberapa segi kerugian dari program kelas akselerasi ini, terlebih bila dilihat dari segi pendidikan nilai kemanusiaan yang lebih menyeluruh.

Pertama, pendidikan nilai sulit dipercepat. Dalam perdebatan persoalan pendidikan nasional akhir-akhir ini banyak dipersoalkan kurangnya pendidikan nilai di sekolah-sekolah dari SD sampai SMU. Disadari, kebanyakan sekolah terlalu menekankan segi kognitif saja, tetapi kurang menekankan segi nilai kemanusiaan yang lain. Maka mulai disadari pentingnya pendidikan nilai, termasuk pendidikan budi pekerti dan segi-segi kemanusiaan lain seperti emosionalitas, religiositas, sosialitas, spiritualitas, kedewasaan pribadi, afektivitas, dll.

Pendidikan nilai kemanusiaan memerlukan latihan dan penghayatan yang membutuhkan waktu lama, sehingga sulit dipercepat. Misalnya, penanaman nilai sosialitas perlu diwujudkan dalam banyak tindakan interaksi antarsiswa dan kerja sama; penanaman nilai penghargaan terhadap manusia lain membutuhkan latihan dan mungkin hidup bersama orang lain, dan tidak cukup hanya dengan pengajaran pengetahuannya.

Maka program kelas akselerasi, yang hanya menekankan segi pengetahuan (kognitif), tidak membantu bahkan mungkin memperburuk penanaman nilai. Maka kita dapat mempertanyakan bagaimana dengan pendidikan nilai kemanusiaan ini? Apakah perkembangan emosi, hati, religiositas, dan sosialitas dapat dipercepat? Apakah dengan pemercepatan lulusan, justru tidak membantu mereka lebih terlalu menekankan segi kognitif, sehingga segi lain tidak mendapatkan perhatian? Memang dapat lulus dengan cemerlang dan cepat, tetapi dapat berkembang menjadi kurang peduli kepada teman lain dan tidak mengerti pergulatan teman lain, kurang sosial, bahkan emosi mereka tidak berkembang pula.

Kedua, pendidikan nilai oleh keluarga dan masyarakat masih kurang. Kelas akselerasi yang hanya menekankan pengetahuan anak berbakat, akan menjadi sungguh baik bila pendidikan nilai sudah ditangani keluarga, masyarakat, dan pemerintah secara menyeluruh. Bila keluarga dan masyarakat mendampingi anak-anak dalam mengembangkan nilai kemanusiaan-seperti nilai demokrasi, sosialitas, penghargaan terhadap manusia lain-maka sekolah akselerasi yang hanya memperhatikan pengetahuan dapat dimengerti.

Akan tetapi, sejauh pendidikan keluarga, pendidikan masyarakat belum menangani banyak hal, kiranya sekolah formal masih harus ikut menjalankan fungsi pendidikan nilai itu. Dari pengalaman, hal ini tidak mudah dipercepat. Bahkan sering terjadi anak-anak berbakat kurang berkembang dalam nilai kemanusiaan yang lain.

Ketiga, banyak anak umur sekolah tidak dapat sekolah. Di Indonesia kini masih banyak anak usia SD-SMU yang tidak mengalami pendidikan sekolah karena ekononi keluarga yang jelek dan yang drop out karena terpaksa menjadi anak jalanan. Maka, meski memikirkan program akselerasi bagi beberapa anak berbakat tidaklah salah, namun sebagai bangsa kiranya porsinya kurang pas.

Sebagai bangsa, kita perlu membantu anak-anak yang belum dapat menikmati pendidikan. Mereka akan menjadi bagian penting pengembangan bangsa ini di kemudian hari, maka kita bertanggung jawab untuk membantu mereka. Jangan sampai ada segelintir siswa dibantu dipercepat, sedangkan kebanyakan anak yang masih tidak dapat menikmati pendidikan minimal dibiarkan atau tidak diurus karena kurang menarik dan memakan biaya besar. Berapa lembaga yang kini ikut memikirkan pendidikan "anak-anak jalanan" dibanding yang mulai memikirkan "program akselerasi?"

Keempat, bakat menonjol siswa berlainan. Kemampuan menonjol siswa dapat bervariasi, ada yang amat menonjol dalam bahasa, IPA, matematika, dan lain-lain. Hal ini juga berlaku bagi siswa yang IQ-nya tinggi. Maka membuat kelas akselerasi yang memperhatikan keunggulan siswa yang berbeda-beda, dalam praktik juga sulit. Sedangkan bila dibantu secara sama dapat terjadi tidak pas dengan kebutuhan siswa, akibatnya akan kurang efisien.

MELIHAT kerugian dari segi pendidikan kelas akselerasi cukup banyak dibanding keuntungan dalam segi pengetahuan, diusulkan jalan keluar dengan kelas pengayaan. Dengan kelas pengayaan, siswa yang berbakat dan pandai, tetap di kelas yang sama dengan teman lain, tetapi pada saat mereka sudah menyelesaikan bahan pelajaran yang diberikan, siswa berbakat diberi tugas khusus lebih tinggi tingkatnya. Dengan demikian mereka mempunyai tugas khusus yang lebih bermutu dari yang lain, tetapi mereka tidak diluluskan lebih cepat.

Dengan cara ini di kelas ada tuntutan minimal yang berlaku bagi semua siswa, dan ada tambahan-tambahan yang diberikan kepada setiap siswa yang lebih pandai. Di sini dipadukan antara model kelas umum dan kelas individual. Guru diajak lebih terbuka dengan perbedaan pribadi dan kepandaian masing-masing anak.

Pada akhir program, mereka akan dinyatakan lulus dengan honour. Selain tugas pengayaan itu, mereka yang berbakat dapat dilibatkan untuk menjadi tutor bagi siswa lain, sehingga teman-teman lain terbantu. Model ini akan menumbuhkan sosialitas kepada mereka bahkan kepekaan mereka untuk membantu teman yang lemah dalam pengetahuan.

Dengan tetap menjadi satu kelas, siswa yang berbakat dan kurang berbakat dapat saling membantu dalam kehidupan bersama. Bukankah realitas hidup di masyarakat juga seperti itu? Kepekaan dan kerja sama dengan siswa yang kurang berbakat akan membantu mereka, bila nanti telah menjadi seorang ahli, untuk tetap memperhatikan nasib masyarakat kecil dan mau bekerja sama dengan orang biasa.

Tentu saja, bila ada sekolah yang ingin menyatukan anak-anak berbakat dalam kelas akselerasi ini tidak dapat dipersalahkan. Namun, yang kiranya perlu diperhatikan adalah apakah sekolah sadar, mereka juga mempunyai tugas untuk membantu pengembangan segi nilai kemanusiaan yang lain? Bila ini disadari maka sekolah dapat pula membantu bagaimana nilai-nilai lain tadi tetap dikembangkan dan bukan disingkirkan atau bahkan dilanggar.

Tentu di perguruan tinggi (PT) program akselerasi amat cocok karena pada taraf PT yang ditekankan adalah pengembangan pengetahuan mahasiswa, bukan pendidikan nilai seperti di SD sampai SMU. Maka pada level PT, boleh saja mahasiswa mengambil dua program studi, atau double major, kalau dari segi otak mereka mampu. Tetapi untuk SD hingga Sekolah Menengah yang masih menekankan pendidikan nilai kemanusiaan yang menyeluruh, kiranya kurang tepat penyelenggaraan kelas akselerasi yang hanya menekankan segi kognitif.